Pages

Subscribe:

Senin, 09 Januari 2012

NEXUS EVENT 2012 (3)

          Mari kita lanjutkan artikel sebelumnya. Artikel ini masih ada hubungannya dengan artikel sebelumnya jadi, Bagi yang baru membaca saya sarankan untuk membaca artikel sebelumnya yaitu NEXUS EVENT 2012 dan NEXUS EVENT 2012 (2) agar lebih mudah memahami artikel ini. Okey...!
         


C. Gelombang Super Dr. Paul Laviolette
Bila ingin memahami banyak hal yang akan datang, maka kita bisa melihat karya Dr. Paul Laviolette, seorang ilmuwan jenius. Ia adalah penulis sejumlah buku yang sangat terkenal, seperti The Talk of Galaxy, Earth Under Fire, Genesis of The Cosmos (Beyond The Big Bang), Subquantum Kinetics, dll. Beliau menyandang sembilan gelar dalam bidang fisika dari John Hopkins, MBA dari University of Chicago, dan PhD dari Portland State University.

                              Salah satu hasil karya Dr. Paul LaViolette
Dr. Laviolette adalah orang yang pertama kali memprediksikan bahwa limpahan partikel sinar kosmis berintensitas tinggi akan berjalan secara langsung ke planet kita daari tempat yang jauh dalam galaksi kita. Sebuah gejala yang kini telah dikonfirmasi oleh data ilmiah. Ia juga merupakan orang yang pertama mengungkap konsentrasi debu kosmis yang tinggi dalam titik kutub Zaman Es, menandakan bahwa pernah terjadi bencana kosmis global di masa lalu.

Konsentrasi debu kosmis yang menandai pernah terjadi bencana                  kosmis global
Berdasarkan hasil karyanya, ia membuat prediksi tentang masuknya debu yang berasal dari gugusan bintang kedalam sistem tata surya, sepuluh tahun sebelum dikonfirmasi pada 1993 oleh pesawat ruang angkasa Ulysses dan pengamatan radar dari selandia baru. Ia kini adalah presiden Starburst Foundation, sebuah lembaga ilmiah antardisiplin ilmu.
Satu hal yang berkait dengan peristiwa NEXUS 2012 – 2013 adalah bahwa Starburst Foundation menemukan paling sedikit dua gelombang super yang dapat menghasilkan zaman es baru sedang merambat menuju kita dari tempat asalnya, yang berjarak sekitar 26.000 tahun cahaya, yaitu dari dalam pusat galaktika dalam Gugusan Bima Sakti.
Yang perlu diperhatikan, sebagian ilmuwan telah mengukur jarak antara matahari kita dengan pusat galaktika yaitu 24 tahun cahaya. Sebagian pihak lain menganggap bahwa mungkin lebih mendekati angka 26000 tahun cahaya. . Wallahu a’lam bishshawab

                               Ledakan keras yang terjadi di pusat galaksi
Riset pada awal 1980-an telah membawanya ke contoh es yang berasal dari Greenland dan Antartika. Di Greenland secara khusus ia menemukan tingkat debu kosmis yang tinggi dalam bagian inti zaman es. Hal ini menegaskan hipotesis bahwa pastinya telah datang sinar kosmis dari pusat galaktika pada masa sekitar itu.
Kedatangan sinar itu mendorong debu galaktika masuk kedalam sistem tata surya kita yang menyebabkan perubahan iklim yang ekstrem di seluruh planet dalam sistem kita. Sinar kosmis ini mengisi area dengan debu termasuk matahari, dan radiasi yang mencapai Bumi datang dengan spektrum yang berbeda.  
Dari pandangan fisik, Dr. Laviolette membahas lebih banyak tentang langit yang memerah dan berdebu, serta sulitnya melihat bintang di malam hari. Tetapi yang paling penting adalah radiasi dalam spektrum inframerah yang menciptakan apa yang disebut Paul Laviolette sebagai Interplanetary hot-house effect. Seperti Bumi, sistem tata surya kita memiliki atmosfernya sendiri, yang disebut Heliopause. Seperti bidang magnetis bumi kita, gerakan Heliopause menciptakan “kepala” yang melingkar dan “ekor” yang menyempit.

                                           Heliopause
Para astronom yakin bahwa sistem tata surya kita adalah wilayah yang relatif bebas debu kosmis. Debu kosmis dan material beku dari luar angkasa di simpan di luar gelembung pelindung ini. Hal ini ditegaskan ketika pesawat ruang angkasa IRAS dan Ulysses memperlihatkan citra inframerah dri sistem tata surya kita yang dikelilingi oleh awan debu kosmis yang tipis dan halus dan kepadatannya semaikn meningkat ketika melewati Saturnus.
Jadi, bila debu kosmis mengelilingi Heliopause, apa yang membuatnya tiba – tiba masuk ke heliopaus? Bagaimana hal ini terjadi bersamaan dengan bara matahari yang kuat? Laviolette memperkirakan bahwa ada sesuatu yang mengusik heliopause dari luar, menghantamnya, menarik debu kosmis yang ada di dalamnya dan memberi tenaga pada matahari. Energi dan hantaman seperti itu akan sangat kuat. Tempat paling logis untuk mencari  energi sinar dahsyat seperti itu adalah Galaksi Gugusan Bima Sakti.
Yang terkait dengan ini adalah fakta penuh teka – teki bahwa kita telah menyaksikan tidak ada ledakan galaktika . besaran debu kosmis yang mengalir di dalam Heliopause telah meningkat secara mantap sebabnya hampir tiga kali sejak titik matahari maksimum terakhir pada 2001.
Selama titik hari maksimum pada masing – masing siklus sebelas tahunnya, polaritas matahari berubah, Utara menjadi Selatan, dan sebaliknya. Ketidakstabilan magnetik yang berlangsung singkat ini memungkinkan sejumlah debu kosmis masuk ke dalam Heliopause karena “Pelindung” matahari menipis. Namun begitu polaritas baru terbentuk, matahari biasanya dengan cepat menghalangi debu. Kali ini hal itu tidak terjadi. Debu kosmis telah mengalir masuk dari pusat Galaktika dan para astronomer tidak mampu menjelaskan penyebabnya.
          Ini adalah pertama kali hal seperti ini terjadi, paling tidak dalam kerangka waktu matahari kita. Belum lagi beberapa anomali dan gejala baru yang telah muncul tahun ini bersama dengan perubahan iklim di seluruh planet. Dan perubahan itu masih akan terus terjadi. Sangat mungkin bahwa sistem tata surya kita telah mengalami energi yang ada di mana-mana dari Ekuator Galaktika dengan bergeraknya kita ke dalam posisi dan sejajar dengannya pada 2012 ini.
Data terbaru memperlihatkan bahwa efek dramatis dan potensial mematikan dapat dihasilkan dari bara matahari dan menyemburkan massa koronal. Data substansial mengemukakan bahwa peristiwa ini, serupa dengan yang diantisipasi dengan skenario hari kiamat 2012, terjadi sekitar 14.950 tahun yang lalu dan dicatat oleh manusia purba. Peristiwa ini berlangsung selama beberapa ribu tahun lamanya, menjadi penyebab berakhirnya zaman es terakhir secara tiba-tiba, dan juga seleksi substansial terhadap populasi manusia.
Penemuan mengejutkan yang dilakukan oleh LaViolette, didukung oleh riset lain, mengemukakan bahwa peristiwa matahari ekstrem bersesuaian dengan Radiasi kuat yang datang dari pusat Galaksi Gugusan Bima Sakti dan dihubungkan dengan Sinar Gamma dan debu kosmis. Pengamatan belum lama ini telah memperlihatkan adanya peningkatan dramatis dalam Energi Sinar Gamma di Ekuator Galaksi yang akan sampai pada titik maksimumnya bersamaan dengan kesejajaran sistem tata surya kita pada 21 desember 2012. . Wallahu a’lam bishshawab.
Catatan lampau dalam inti es (13.880-13.785 SM) mengemukakan bahwa radiasi yang intensif dari peristiwa yang terakhir ini dapat berlangsung selama beberapa tahun. Tampaknya sangat mungkin bahwa kesejajaran ini akan menyebabkan peristiwa matahari ekstrem lain karena sejumlah faktor lain yang memicu “ titik matahari maksimum “ juga terjadi bersamaan pada tanggal pasti ini.
Fakta bahwa pusat Galaktika secara rutin meradiasi Sinar Gamma mematikan membuat sepertinya sangat tidak mungkin kehidupan ini (paling tidak seperti yang kita mengerti ) dapat bertahan di semesta ini. Cepat atau lambat kehidupan yang fana ini ditakdirkan untuk punah dan menuju ke dimensi yang lebih tinggi lagi.
Studi genetika terbaru tentang variasi kromosom Y oleh Dr. Marcus Feldman dari Stanford University memperlihatkan bahwa populasi tempat berasalnya populasi dunia saat ini, terdiri atas 2.000 individual. Entah bagaimana, manusia, flora, dan fauna dapat bertahan hidup pada BENCANA terakhir dan sebagian mungkin juga selamat pada 2012. . Wallahu a’lam bishshawab.
1.  Penemuan LaViolette
Tujuan utama Ekspedisi LaViolette adalah untuk mencari bukti tentang meningkatnya tingkat debu kosmis dalam catatan inti Es yang sesuai dengan Zaman Es terakhir. Lalu nagaimana Anda dapat mengatakan bila memang ada debu kosmis di dalam  es? Apakah itu adalah kehadiran elemen tertentu yang sedang dicarinya?Ya, LaViolette memang mencari contoh Iridium dan Nikel yang ada pada debu kosmis berkadar tinggi.     
           
                                      Pencarian Iridium
 Secara khusus ia sedang mencari logam berharga, yaitu iridium. Kandungan material ini kurang lebih seratus kali lebih melimpah daripada material kosmis lain dalam debu kosmis. Emas adalah elemen lain yang ia temukan pada tingkatan yang lebih atas pada kutub es.
Bagaimana dengan Beryllium? Dalam rangka untuk melakukan itu, Dr. Paul mengatakan bahwa anda perlu teknik analisis berbeda. Beryllium dapat ditemukan dengan Spektrometer Massal.
Paul menggunakan aktivasi Neutrino yakni ketika anda menghujani sampel anda dalam reaktor, membuatnya bersifat radioaktif dan kemudian mengukur Sinar Gamma yang dihasilkan. Dari situ anda dapat mengatakan apa yang ada di dalam es.
Dengan Beryllium 10, isotop Beryllium dibentuk dalam atmosfir ketika atmosfir diserang oleh Sinar Kosmis. Dalam rangka untuk memisahkan isotop tertentu dengan isotop Beryllium lain, Anda memerlukan akselerator. Ini adalah pendekatan yang sepenuhnya berbeda tetapi sebagian orang lain telah menyelesaikannya. Mereka menemukan Beryllium 10 berkadar tinggi di dalam es. Jadi peristiwa ini memang pernah terjadi sebelumnya.
Sejumlah pengujiannya dilaksanakan dari kedalaman berbeda, atau lebih tepatnya adalah dengan contoh Es  yang sesuai dengan periode antara 12.000-16.000 tahun lalu pada zaman es terakhir. Contoh itu sesuai dengan waktu kepunahan hewan di bumi, di Zaman punahnya Dinosaurus secara massal.

Pada akhir 2012 kita dapat memperkirakan adanya hantaman paling sedikit lima gelombang super dengan kekuatan cukup kuat untuk menciptakan Zaman Es baru. Hantaman akan berjalan dengan kecepatan lebih cepat dari kecepatan cahaya , dari titik awal mereka yang berjarak 26.000 tahun cahaya jauhnya, yaitu Lubang Hitam di pusat Galaksi Gugusan Bima Sakti.   
Yang belum jelas adalah apakah inti Galaktika dari Gugusan Bima Sakti memang meledak 26.000 tahun lalu. Bila sinar berjalan dengan kecepatan cahaya, maka akan memerlukan waktu yang sama untuk mencapai Bumi kita, atau lebih cepat. Ini artinya berjalan lebih cepat dari kecepatan cahaya. Ini bukanlah sesuatu yang tidak mungkin karena teleskop kita telah mencatat kecepatan jet galaktika yang bergerak paling sedikit lima kali kecepatan cahaya.

0 komentar: